Demonstrasi laboratorium yang dibagikan oleh lulusan teknologi pangan dan komunikator sains Indonesia, Andrea Novita, telah menarik perhatian publik dengan menjelaskan bagaimana pemanis stevia alami dapat diproduksi langsung dari daun tanaman.
Melalui eksperimen langkah demi langkah yang dipresentasikan di akun TikTok- nya @andreanovitaa, Andrea menguraikan proses ilmiah di balik rasa manis stevia yang intens, menawarkan pemahaman yang lebih jelas mengapa pemanis nabati ini terasa jauh lebih manis daripada gula sementara hampir tidak mengandung kalori.
Dalam salah satu videonya, Andrea memandu pemirsa melalui proses langkah demi langkah pembuatan pemanis alami dari daun stevia kering. Eksperimen dimulai dengan daun stevia kering yang dihaluskan menjadi bubuk. Langkah awal ini sangat penting, karena menghaluskan daun menjadi bubuk meningkatkan luas permukaannya, sehingga senyawa manis di dalamnya dapat diekstrak dengan lebih efektif.
Daun yang telah dihaluskan kemudian dicampur dengan air dan diaduk secara otomatis untuk mengekstrak glikosida steviol , senyawa yang bertanggung jawab atas rasa manis stevia yang kuat. Campuran tersebut dibiarkan menjalani proses maserasi selama beberapa jam, memberikan waktu yang cukup bagi senyawa aktif untuk larut dalam cairan.
Setelah proses maserasi selesai, campuran disaring untuk memisahkan ekstrak cair dari sisa residu daun. Cairan yang telah disaring kemudian dipindahkan ke tabung kecil dan dimasukkan ke dalam sentrifugasi. Proses ini memurnikan ekstrak lebih lanjut dengan memisahkan partikel berdasarkan perbedaan densitas. Selama sentrifugasi, residu yang lebih berat akan mengendap di bagian bawah, sedangkan cairan yang lebih jernih di bagian atas dikumpulkan sebagai ekstrak stevia.
Menurut Andrea, ekstrak yang dihasilkan terasa jauh lebih manis daripada gula biasa. Stevia dikenal hingga 300 kali lebih manis daripada gula konvensional, meskipun hampir tidak mengandung kalori. Karakteristik unik inilah yang membuat stevia semakin populer sebagai pemanis alternatif.
Karena tingkat kemanisannya yang sangat tinggi, stevia harus digunakan dalam jumlah yang disesuaikan dengan hati-hati. Bahkan sedikit ekstrak stevia sudah cukup untuk memberikan rasa manis yang kuat, sehingga penggunaannya pada dasarnya berbeda dari gula, yang biasanya digunakan dalam jumlah yang jauh lebih besar.
Aspek lain yang sering dibahas dalam ilmu pangan adalah profil rasa stevia. Rasa manisnya berasal dari glikosida steviol, yang menghasilkan karakteristik rasa yang khas. Memahami profil ini penting dalam pengolahan makanan, karena membantu menentukan bagaimana stevia dapat diterapkan dengan tepat dalam berbagai formulasi makanan dan minuman.
Salah satu keunggulan stevia yang paling signifikan adalah keamanannya bagi penderita diabetes. Tidak seperti gula, stevia tidak menyebabkan lonjakan kadar glukosa darah karena glikosida steviol tidak dimetabolisme oleh tubuh dengan cara yang sama seperti gula konvensional. Sifat inilah yang membedakan stevia dari banyak pemanis tradisional.
Demonstrasi ini juga menyoroti bahwa produksi pemanis alami tidak selalu membutuhkan teknologi skala industri yang kompleks. Dengan menerapkan prinsip-prinsip dasar kimia pangan dan menggunakan peralatan laboratorium yang relatif sederhana, proses ekstraksi stevia dapat dijelaskan secara transparan, sehingga memudahkan masyarakat untuk memahami dari mana rasa manisnya berasal.
Melalui konten berbasis eksperimen seperti ini, pendidikan ilmu pangan melampaui teori dan masuk ke dalam aplikasi dunia nyata. Menunjukkan setiap langkah proses membantu meningkatkan literasi pangan masyarakat, terutama karena minat terhadap gaya hidup yang lebih sehat dan pengurangan konsumsi gula terus meningkat.
Eksperimen stevia yang dipresentasikan oleh Andrea juga menggarisbawahi peran penting komunikator sains dalam menjembatani kesenjangan antara pengetahuan ilmiah dan masyarakat umum. Dengan menggunakan bahasa yang jelas dan visual yang mudah dipahami, proses ilmiah yang kompleks dapat dibuat mudah dimengerti oleh khalayak yang lebih luas.
Dengan menjabarkan proses ekstraksi stevia secara transparan dan mudah dipahami, demonstrasi ini mendorong penonton untuk memandang bahan makanan secara lebih kritis dan ilmiah. Alih-alih menerima pemanis sebagai produk anonim di rak toko, penonton diajak untuk memahami proses di baliknya, sehingga menumbuhkan hubungan yang lebih informatif dan bijaksana dengan pilihan makanan sehari-hari.
Dengan proses yang relatif sederhana dan manfaat yang jelas, mungkinkah stevia menjadi alternatif utama pengganti gula di masa depan?
